Mujahidin
(Guru swasta SMA di Jakarta Timur)
Guru sebetulnya gajinya sudah tinggi,
namanya manusia serba kurang
inginnya punya mobil semua,
yang demo diganti saja
(Media
Ini hanya salah satu sms (pesan singkat) yang dimuat Media Indonesia menanggapi Editorial, (15/7) tentang rendahnya budaya baca dan demostrasi guru. Dan masih banyak pesan serupa, ada yang mendukung dan yang tidak setuju bahkan ada yang melecehkan guru. Nada sms seperti di atas, lahir dari kekurangmengertian akan nasib dan peran guru secara utuh dan menyeluruh. Tampak bahwa guru menuntut lebih, tidak berterima kasih bahkan pesan singkat yang lain, guru tidak peduli dengan mutu pendidikan, memeras orang miskin, dan masih banyak lagi yang lain.
Pesan-pesan singkat yang bernada melecehkan atau berprasangka buruk terhadap guru ini harus diluruskan agar tidak menimbulkan dampak yang lebih luas, ketidakpercayaan terhadap guru dan institusi pendidikan atau sekolah. Harus diakui bahwa ada sekolah baik negeri maupun swasta yang mengkomersilkan pendidikan (sekolah bonafit) dengan menarik uang masuk yang besar, sehingga ada anggapan makin besar atau makin terkenal suatu sekolah makin tinggi biaya masuk dan bayaran bulannya. Tetapi uang masuk yang besar tidak selalu menjamin mutu sekolah yang baik. Hanya mencerminkan status sosial siswa-siswa yang masuk sekolah tersebut. Untuk sekolah negeri, uang yang masuk dan uang bayaran yang besar memberi kontribusi terhadap tingkat kesejahteran gurunya. Sedang, untuk sekolah swasta uang masuk dan bayaran bulanan yang besar menjadi hak dari pemilik sekolah. Adapaun guru hanya mendapatkan gaji sesuai tanggungjawabnya dan jumlah jam mengajarnya yang besarnya per jam di tentukan berdasarkan kebaikan hati pemilik sekolah. Dan guru-guru honorer yang mengajar pada sekolah-sekolah swasta yang murah juga mendapatkan bayaran yang murah. Persoalannya jumlah sekolah bonafit negeri ataupun swasta sangat sedikit sehingga jumlah guru yang mengajar di sekolah seperti itu pun sedikit, bila dibandingkan dengan banyaknya sekolah yang cukup murah.
Agar tidak menimbulkan prasangka jelek terhadap semua guru, baiknya harus dipilah antara guru yang berstatus PNS (pegawai negeri sipil) dan swasta. Untuk guru PNS tingkat kesejahteraanya relatif cukup. Sedang untuk guru swasta harus dipilah lagi menjadi guru PTT (khusus DKI Jakata), guru bantu dan guru swasta non guru bantu (guru honorer). Guru PTT diangkat dan digaji oleh pemerintah daerah DKI Jakarta dan mengajar di sekolah negeri di lingkungan DKI Jakarta dengan gaji sebesar satu juta dua ratus ribu rupiah per bulan.
Guru bantu diangkat oleh pemerintah pusat di seluruh
Berdasarkan pengalaman penulis, setiap jam mengajar dibayar dua ribu
Tugas Berat
Pada semester ganjil tahun ajaran yang lalu, khusus DKI Jakarta ada subsidi untuk guru swasta sebesar seratus
Sementara tingkat kesibukan mengajar masih harus ditambah lagi dengan menyelesaikan administrasi pembelajaran dan penilaian melalui Sistem Administrasi Sekolah (SAS) online yang menyita waktu, tenaga dan pikiran yang lebih banyak dari jam mengajar di kelas, tetapi tidak dihitung sebagai jam mengajar. Bahkan kesuksesan penerapan SAS di SMA se-Jakarta berkat kesungguhan dan kerja keras guru yang sampai lebur dan bahkan sampai bermalam di sekolah. Lalu, siapakah siapa yang bertanggung jawab akan kesejahteraan guru? Ataukan guru hanya dituntut untuk mendidik, mengajar dan menyelesaikan administrasi, dengan bayaran yang tidak layak? Atau sekedar ‘sapi perahan’ demi tujuan yang besar meningkatkan mutu pendidikan dan meningkatkan sumber daya manusia
Jangankan berpikir untuk membeli buku atau lanjut kuliah, yang ada hanya mempertahankan hidup untuk hari esok. Guru swasta menjadi bagian dari kemiskinan di negeri ini
Sekedar Janji
Guru dengan tingkat kesejahteraan yang rendah masih terus berjuang demi bangsa, meski banyak janji pemerintah yang tidak terpenuhi, misalnya janji presiden untuk mengangkat semua guru bantu sampai 2009, sejak tahun 2006 tidak terbukti. Padahal banyak guru bantu yang telah mengabdi puluhan tahun dan bahkan ada telah berusia 40 tahun keatas dengan masa depan keluarga yang tidak jelas.
Tunjungan fungsional guru yang seharusnya menjadi bagian dari perbaikan kesejahteraan guru sawsta tak kunjung ada, bahkan tidak jelas nasibnya. Nah, siapakah sebenarnya yang menghancurkan mutu pendidikan kita? Dan masih adakah empati untuk guru swasta, untuk rakyat miskin? Bukankan guru juga manusia, butuh kejelasan akan masa depan keluarga dan anak-anak mereka?
Guru, teruslah berjuang sampai merdeka atau mati!






Tidak ada komentar:
Posting Komentar